Nats: “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” — Kejadian 2: 15

DI berbagai belahan dunia, alam seakan sedang “bersuara”.
Banjir datang lebih sering, hutan terus berkurang, udara semakin tercemar, dan cuaca menjadi sulit diprediksi.
Indonesia pun merasakan dampaknya. Kebakaran hutan, longsor, pencemaran sungai, hingga krisis sampah menjadi persoalan yang setiap hari kita saksikan.
Sering kali manusia memandang bumi hanya sebagai sumber keuntungan.
Hutan ditebang tanpa memikirkan kelestariannya, sungai dijadikan tempat pembuangan limbah, dan kekayaan alam dieksploitasi tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem.
Akibatnya, bukan hanya alam yang rusak, tetapi manusia sendiri yang merasakan dampaknya.
Padahal sejak awal penciptaan, Allah telah memberikan mandat yang sangat jelas.
Dalam Kejadian 2: 15, manusia ditempatkan di Taman Eden bukan untuk menguasai secara sewenang-wenang, melainkan untuk mengusahakan dan memeliharanya.
Dua kata ini menunjukkan bahwa bekerja dan menjaga ciptaan merupakan tanggung jawab yang berjalan berdampingan.
Merawat bumi bukan sekadar gerakan sosial atau tren lingkungan. Bagi orang percaya, itu adalah bagian dari ketaatan kepada Allah.
Ketika kita menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi sampah plastik, menanam pohon, menghemat air dan listrik, atau tidak merusak alam demi keuntungan pribadi, kita sedang menghormati Sang Pencipta melalui ciptaan-Nya.
Sayangnya, kesadaran ini masih sering diabaikan. Banyak orang rajin beribadah di rumah Tuhan, tetapi kurang peduli terhadap lingkungan di sekitarnya.
Padahal iman yang sejati tidak hanya terlihat di dalam gereja, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan dunia yang Allah percayakan kepada kita.
Yesus mengajarkan kasih yang nyata. Kasih itu bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga tercermin dalam tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan Allah.
Ketika bumi dipelihara dengan baik, generasi berikutnya juga akan menikmati anugerah Tuhan yang sama.
Krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini menjadi pengingat bahwa sudah waktunya orang percaya mengambil peran.
Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan sungai, menanam pohon, dan mengedukasi keluarga untuk mencintai lingkungan adalah bentuk kesaksian iman yang nyata.
Merawat ciptaan bukan sekadar aktivitas duniawi. Itu adalah wujud syukur atas anugerah Allah dan bentuk ibadah yang dilakukan melalui tindakan.
Sebab bumi ini bukan milik kita, melainkan milik Tuhan yang untuk sementara dipercayakan kepada manusia.
Renungan
Allah tidak meminta kita menjadi penguasa yang serakah, tetapi pengelola yang setia.
Ketika kita menjaga bumi dengan penuh tanggung jawab, kita sedang memuliakan Dia yang telah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya.
Doa
Tuhan, ajarlah kami menjadi pengelola yang setia atas bumi ciptaan-Mu.
Bukalah mata kami untuk melihat bahwa setiap tindakan kecil dalam menjaga lingkungan merupakan bentuk ketaatan kepada-Mu.
Mampukan kami menjadi teladan dalam mencintai dan memelihara ciptaan-Mu, sehingga melalui hidup kami nama-Mu semakin dimuliakan. Amin.
Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat bahwa iman kepada Kristus juga tercermin dalam kepedulian terhadap bumi yang Tuhan percayakan kepada manusia.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









