Nats: “HAI orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku akan dinodai, kamu yang mencintai kesia-siaan dan yang mencari kebohongan?” (Mazmur 4: 3)
PERNAH nggak sih kita merasa capek lihat orang yang seharusnya jadi teladan malah sibuk mempertahankan pencitraan?
Yang benar dibengkokkan, yang salah dipoles seolah-olah baik.
Akhirnya, rakyat bingung: mana yang bisa dipercaya?
Mazmur 4 lahir dari pergumulan Daud. Ia melihat ada orang-orang yang lebih suka mengejar kebohongan daripada kebenaran.
Mereka mengutamakan kepentingan sendiri dan mengabaikan kehendak Tuhan.
Kalau direnungkan, Firman ini masih sangat relevan sampai hari ini.
Di mana pun sebuah bangsa berada, ketika para pemimpinnya lebih mencintai popularitas daripada integritas, lebih memilih menutupi fakta daripada berkata jujur, maka yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat.
Kepercayaan mulai runtuh, harapan memudar, dan persatuan ikut terguncang.
Tuhan tidak pernah memberi restu kepada kepemimpinan yang dibangun di atas dusta.
Jabatan boleh tinggi, kekuasaan boleh besar, tetapi semuanya tidak akan bertahan jika kehilangan kebenaran.
Sebaliknya, pemimpin yang takut akan Tuhan akan berani mengakui kesalahan, mendengar suara rakyat, dan mengambil keputusan berdasarkan keadilan, bukan sekadar keuntungan sesaat.
Sebagai orang percaya, tugas kita bukan hanya mengkritik.
Kita dipanggil untuk mendoakan para pemimpin agar Tuhan memberi mereka hati yang takut akan Dia, hikmat dalam mengambil keputusan, dan keberanian untuk berdiri di pihak kebenaran.
Karena pada akhirnya, sebuah bangsa akan jauh lebih kuat ketika dipimpin oleh orang-orang yang menghormati Tuhan daripada oleh mereka yang hanya mengejar pujian manusia.
Doa: Tuhan, ajarlah kami mencintai kebenaran.
Berkati setiap pemimpin agar memimpin dengan hati yang takut akan-Mu, menjunjung keadilan, dan tidak tergoda oleh kebohongan ataupun kesia-siaan.
Pakailah juga kami menjadi pembawa damai yang terus mendoakan bangsa dan para pemimpinnya. Amin.
Penyebar: Shalom.click | Ebenezer









