Nats: “Seharusnya mereka malu, sebab mereka melakukan perbuatan keji; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda. Sebab itu mereka akan rebah bersama-sama orang-orang yang rebah; pada waktu Aku menghukum mereka, mereka akan tumbang, firman TUHAN.” (Yeremia 6: 15)
DI masa lalu, rasa malu masih menjadi pagar moral yang menjaga seseorang agar tidak mudah melakukan kesalahan.
Orang merasa sungkan ketika berbohong, malu ketika mengingkari janji, dan menundukkan kepala ketika berbuat curang.
Namun hari ini, keadaan itu perlahan berubah. Banyak orang justru dengan bangga mempertontonkan perilaku yang salah, bahkan mencari pembenaran atas perbuatannya.
Kita menyaksikan kebohongan disampaikan tanpa rasa bersalah, korupsi dianggap hal biasa, fitnah disebarkan tanpa penyesalan, dan berbagai tindakan yang melukai sesama dipandang sebagai sesuatu yang lumrah.
Yang memprihatinkan bukan hanya banyaknya pelanggaran moral, tetapi hilangnya rasa malu setelah melakukannya.
Firman Tuhan melalui Nabi Yeremia menggambarkan kondisi yang sangat mirip dengan zaman sekarang.
Bangsa Israel tetap melakukan kekejian, tetapi hati mereka telah begitu keras sehingga tidak lagi mengenal rasa malu.
Hati nurani yang seharusnya menjadi alarm rohani telah menjadi tumpul.
Ketika hati nurani terus diabaikan, dosa tidak lagi terasa sebagai dosa, melainkan berubah menjadi kebiasaan.
Budaya malu yang sehat bukan berarti hidup dalam ketakutan terhadap penilaian manusia.
Sebaliknya, budaya malu yang alkitabiah lahir dari kesadaran bahwa setiap tindakan kita berada di hadapan Allah yang kudus.
Rasa malu karena berbuat dosa dapat menjadi awal pertobatan, sebab orang yang masih mampu merasa bersalah masih memiliki hati yang peka terhadap suara Tuhan.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjaga hati nurani tetap hidup.
Jangan membiasakan diri berdamai dengan dosa yang kecil, sebab dosa yang dibiarkan akan mengikis kepekaan rohani sedikit demi sedikit.
Kejujuran, integritas, kerendahan hati, dan keberanian mengakui kesalahan adalah tanda bahwa hati kita masih dibentuk oleh firman Tuhan.
Di tengah dunia yang semakin kehilangan rasa malu, gereja dipanggil menjadi terang yang memancarkan kehidupan yang benar.
Marilah kita membangun kembali budaya malu terhadap dosa, bukan malu untuk berbuat benar.
Sebab ketika hati nurani tetap peka, kita akan lebih mudah mendengar suara Tuhan daripada suara dunia.
Renungan:
Jangan takut mengakui kesalahan. Yang lebih berbahaya bukanlah pernah jatuh dalam dosa, melainkan ketika hati tidak lagi merasa bersalah saat melakukannya.
Doa:
Tuhan, jagalah hati nuraniku agar tetap peka terhadap teguran-Mu. Jangan biarkan aku terbiasa dengan dosa hingga kehilangan rasa malu dan takut akan Engkau.
Bentuklah hidupku menjadi pribadi yang mencintai kebenaran dan hidup dalam integritas. Amin.
Penyebar: Shalom.click | Ebenezer









