Sebelum masuk ke tulisan, izinkan saya mengajak pembaca melihat Salib Kasih bukan hanya sebagai sebuah monumen bersejarah, tetapi sebagai warisan iman yang perlu diteruskan kepada generasi berikutnya.
Bagian V – Menjaga Warisan Iman
“INGATLAH kepada pemimpin-pemimpinmu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.”
Ibrani 13: 7
DI atas perbukitan Siatas Barita, Salib Kasih berdiri tegak menatap Kota Tarutung.
Ribuan orang datang setiap tahun untuk berdoa, menikmati panorama alam, atau sekadar mengabadikan momen.
Namun, di balik keindahan itu, Salib Kasih menyimpan pesan yang jauh lebih dalam: iman harus diwariskan, bukan hanya dikenang.
Monumen ini menjadi pengingat bahwa Injil bertumbuh di Tanah Batak bukan karena keadaan yang mudah.
Ada air mata, pengorbanan, doa, dan kesetiaan para pekabar Injil yang rela meninggalkan kenyamanan demi membawa terang Kristus kepada banyak orang.
Warisan itulah yang kini berada di tangan generasi masa kini.
Belajar dari kesetiaan
Generasi muda hidup di zaman yang sangat berbeda.
Kemajuan teknologi menghadirkan banyak peluang, tetapi juga berbagai tantangan.
Informasi mengalir tanpa batas, nilai-nilai dunia mudah memengaruhi cara berpikir, bahkan iman sering kali dianggap tidak lagi menjadi prioritas.
Karena itu, kisah Salib Kasih mengajarkan bahwa iman tidak dibangun dalam semalam.
Iman bertumbuh melalui kesetiaan kepada Tuhan, keberanian untuk tetap hidup benar, dan kerelaan melayani sesama, sekalipun menghadapi berbagai tantangan.
Generasi muda dipanggil bukan hanya menjadi penikmat warisan iman, tetapi juga penerusnya.
Mereka dipanggil menjadi terang di sekolah, kampus, tempat kerja, keluarga, hingga media sosial, sehingga kehidupan mereka menjadi kesaksian tentang kasih Kristus.
Merawat sejarah Gereja
Sejarah gereja bukan sekadar catatan masa lalu. Sejarah adalah akar yang menguatkan identitas orang percaya.
Ketika kita memahami bagaimana Tuhan bekerja melalui para pendahulu, kita akan semakin menghargai anugerah yang kita nikmati hari ini.
Merawat sejarah berarti menjaga cerita, menghargai peninggalan iman, mempelajari perjalanan gereja, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, setiap orang percaya tidak akan kehilangan arah, karena mengetahui bahwa Tuhan yang bekerja dahulu tetap bekerja sampai hari ini.
Salib Kasih menjadi salah satu saksi bisu perjalanan panjang tersebut.
Ia mengingatkan bahwa Injil terus hidup karena ada orang-orang yang setia menjawab panggilan Tuhan.
Tempat memperbarui komitmen Iman
Lebih dari sekadar tujuan wisata rohani, Salib Kasih seharusnya menjadi tempat setiap orang berhenti sejenak untuk mengevaluasi perjalanan hidupnya.
Di sana kita dapat bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku masih mengasihi Tuhan seperti mula-mula? Apakah hidupku sudah menjadi berkat bagi orang lain? Apakah aku siap meneruskan warisan iman kepada generasi berikutnya?
Salib yang menjulang tinggi mengingatkan bahwa kasih Kristus adalah pusat kehidupan orang percaya.
Dari salib itulah lahir pengharapan, pengampunan, dan panggilan untuk hidup setia.
Kiranya setiap langkah menuju Salib Kasih tidak hanya menghasilkan foto yang indah, tetapi juga keputusan baru untuk hidup semakin dekat dengan Tuhan.
Penutup
Salib Kasih Tarutung bukan sekadar simbol kebanggaan masyarakat Batak atau destinasi wisata religi.
Ia adalah pengingat bahwa Tuhan berkarya melalui orang-orang yang setia, dari generasi ke generasi.
Warisan iman itu kini berada di tangan kita. Tugas kita bukan hanya menjaga monumennya tetap berdiri, tetapi memastikan api iman tetap menyala di hati setiap generasi.
Karena pada akhirnya, warisan terbesar yang dapat kita tinggalkan bukanlah bangunan megah atau harta yang melimpah, melainkan iman yang hidup, kasih yang nyata, dan kesetiaan kepada Kristus yang terus diteruskan hingga akhir zaman.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









