“SETIAP orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah. Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”— Yakobus 1: 19-20
ADA orang yang berkata, “Kesabaranku sudah ada batasnya.“
Ungkapan itu terdengar wajar. Namun, ketika kesabaran mulai dibatasi oleh ego, kemarahan sering mengambil alih.
Saat itulah hati menjadi keras, kata-kata melukai, dan hubungan antarsesama perlahan retak.
Sesungguhnya, sabar bukanlah tanda kelemahan. Sabar adalah bukti bahwa hati kita masih hidup.
Orang yang sabar masih mampu merasakan penderitaan orang lain, masih sanggup menahan lidahnya, dan masih memilih kasih daripada amarah.
Sabar juga menunjukkan bahwa adab masih terjaga dan akal sehat masih memimpin setiap keputusan.
Orang yang mampu bersabar tidak sedang kalah, melainkan sedang memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja pada waktu-Nya.
Memang, tidak mudah mempertahankan kesabaran di tengah dunia yang penuh tekanan, fitnah, dan kekecewaan.
Namun firman Tuhan mengingatkan agar kita tidak menjadi lelah dalam berbuat baik.
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”— Galatia 6: 9
Karena itu, jangan mematikan perasaanmu dengan membiarkan amarah menguasai hati.
Rawatlah kesabaran setiap hari. Sebab selama kita masih mampu bersabar, selama itu pula kasih Allah masih sedang bertumbuh di dalam diri kita.
Sabar tidak mengenal batas, sebab kasih Allah kepada kita pun tidak pernah dibatasi.
Kiranya renungan ini menjadi berkat bagi para pembaca Shalom.click.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









