“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
— Galatia 5: 13
Kata “merdeka” terdengar menyenangkan.
Bebas menentukan pilihan, menyampaikan pendapat, menentukan arah hidup, dan menjadi diri sendiri.
Tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa kebebasan juga membutuhkan tanggung jawab?
Di tengah zaman ketika orang semakin mudah berkata, “Ini hidup saya, terserah saya,” firman Tuhan mengajak kita melihat kemerdekaan dari sudut pandang yang berbeda.
Merdeka dalam Kristus bukan berarti bebas melakukan apa saja. Merdeka berarti bebas untuk melakukan yang benar, bebas untuk mengasihi, dan bebas untuk melayani.
Bebas bukan berarti semau gue
Paulus menulis kepada jemaat di Galatia bahwa mereka telah dipanggil untuk merdeka.
Namun Paulus langsung memberikan peringatan: jangan menggunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa.
Ini penting.
Sebab manusia bisa saja salah memahami kebebasan.
Ada yang berkata, “Saya bebas berkata apa saja.”
Akhirnya, media sosial dipenuhi komentar yang menyakitkan.
Ada yang berkata, “Saya bebas berpendapat.”
Tetapi pendapat itu disampaikan dengan merendahkan orang lain.
Kemudian ada yang berkata, “Saya bebas memilih teman.”
Namun kemudian membangun kelompok yang sengaja mengucilkan orang lain.
Ada pula yang berkata, “Yang penting saya bahagia.”
Padahal kebahagiaan yang dicari justru melukai diri sendiri dan orang lain.
Kebebasan tanpa kasih mudah berubah menjadi egoisme.
Karena itu, Galatia 5:13 mengingatkan kita bahwa kemerdekaan memiliki arah: melayani seorang akan yang lain oleh kasih.
Kasih bukan sekadar perasaan
Menariknya, Paulus tidak mengatakan, “Kasihilah orang yang hanya baik kepadamu.”
Ia berkata, “layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
Artinya, kasih tidak berhenti pada perasaan.
Kasih harus terlihat dalam tindakan.
Saat teman sedang jatuh, kita hadir.
Ketika seseorang berbeda pendapat dengan kita, kita tetap menghargainya.
Jika ada orang yang membutuhkan pertolongan, kita tidak pura-pura tidak melihat.
Saat kita memiliki kemampuan lebih, kita menggunakannya untuk membantu, bukan untuk menyombongkan diri.
Inilah wajah kemerdekaan yang dikehendaki Kristus.
Aku bebas, tetapi kebebasanku tidak boleh menjadi alasan untuk melukai sesama.
Zaman ini butuh anak muda yang berbeda
Suluh Zaman bukan sekadar berbicara tentang perubahan zaman.
Kita juga perlu bertanya: orang seperti apa yang dibutuhkan zaman ini?
Dunia tidak kekurangan orang pintar, tidak kekurangan orang yang mampu berbicara, tidak kekurangan orang yang berani tampil di media sosial.
Tetapi dunia membutuhkan lebih banyak orang yang mampu menggunakan kebebasannya dengan kasih.
Anak muda Kristen tidak dipanggil untuk menjadi manusia yang paling keras suaranya.
Kita dipanggil menjadi manusia yang menghadirkan kasih.
Boleh berbeda pendapat, tetapi jangan membenci.
Silahkan mengkritik, tetapi jangan menghina.
Berhak memperjuangkan kebenaran, tetapi jangan kehilangan kasih.
Bisa saja memiliki mimpi besar, tetapi jangan menginjak orang lain demi mencapai mimpi itu.
Karena kedewasaan iman bukan hanya terlihat dari seberapa banyak kita tahu tentang Tuhan, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan sesama.
Jangan saling “menggigit”
Galatia 5: 15 memberikan peringatan yang sangat tajam:
“Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.”
Bahasa Paulus memang keras. Namun justru karena itu pesannya relevan.
Bukankah hari ini kita sering melihat manusia saling “menggigit”?
Di media sosial, orang bisa menyerang hanya karena perbedaan pilihan.
Dalam komunitas, seseorang bisa dijatuhkan karena tidak masuk dalam kelompok tertentu.
Di lingkungan gereja, perbedaan pendapat kadang berubah menjadi konflik pribadi.
Dalam keluarga pun, perkataan yang seharusnya menjadi penguat justru menjadi sumber luka.
Paulus mengingatkan: jangan sampai kebebasan yang kita miliki justru menghancurkan komunitas yang seharusnya kita bangun bersama.
Kalau kasih menjadi gaya hidup
Bayangkan kalau anak-anak muda Kristen mulai menjalani Galatia 5: 13 secara nyata.
Media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat pamer kehidupan, tetapi menjadi ruang untuk menyebarkan pengharapan.
Perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk bermusuhan, tetapi kesempatan untuk belajar.
Kemampuan tidak lagi dipakai untuk menjatuhkan orang lain, tetapi untuk memberdayakan.
Kebebasan tidak lagi berarti “aku bebas melakukan apa saja,” melainkan:
“Aku bebas memilih untuk mengasihi.”
Itulah kemerdekaan yang memiliki dampak.
Bukan hanya membuat diri sendiri merasa bebas, tetapi juga membuat orang lain merasa diterima.
Suluh Zaman:
Terang Itu Terlihat dari Cara Kita Memperlakukan Orang Lain
Galatia 5: 13-15 mengajak kita bercermin.
Mungkin selama ini kita merasa sudah merdeka karena kita bebas menentukan pilihan.
Tetapi firman Tuhan mengajak kita melangkah lebih jauh:
Sudahkah kebebasan kita menjadi berkat bagi orang lain?
Sebab kemerdekaan dalam Kristus bukan tentang mendapatkan hak sebanyak-banyaknya.
Kemerdekaan dalam Kristus adalah kesediaan menggunakan hidup untuk mengasihi.
Jadi, kalau hari ini kita ingin menjadi Suluh Zaman, mulailah dari hal sederhana.
Kurangi kata-kata yang menyakiti.
Berhenti menjatuhkan orang lain.
Belajar mendengar, meminta maaf, mau menolong, dan tetap mengasihi meskipun kita berbeda.
Karena dunia tidak hanya membutuhkan orang yang berkata tentang kasih.
Dunia membutuhkan orang yang benar-benar hidup dalam kasih.
Dan mungkin, terang yang sedang dicari zaman ini bukan berada jauh di luar sana.
Terang itu bisa dimulai dari kita—dari cara kita berbicara, bersikap, mengampuni, dan mengasihi sesama.
Merdeka dalam Kristus.
Bebas untuk mengasihi, melayani, dan menjadi terang.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong






