Bagian III – Bagaimana Salib Kasih Dibangun
DI atas perbukitan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, berdiri sebuah monumen yang kini menjadi salah satu ikon Kekristenan di Tanah Batak, yaitu Salib Kasih.
Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa berdirinya monumen ini merupakan buah dari doa, kerja sama, dan semangat banyak pihak yang ingin mewariskan sejarah iman kepada generasi berikutnya.
Gagasan pembangunan
Gagasan pembangunan Salib Kasih lahir dari keinginan untuk mengenang perjalanan pelayanan misionaris Jerman, Dr. Ludwig Ingwer Nommensen, yang membawa Injil dan melayani masyarakat Batak dengan penuh kasih.
Bukit Siatas Barita dipercaya sebagai salah satu tempat di mana Nommensen pernah berdoa bagi Tanah Batak, sehingga lokasi tersebut dipandang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat penting.
Keinginan untuk menghadirkan sebuah monumen di lokasi itu bukan sekadar membangun bangunan megah, tetapi menjadi simbol bahwa Injil telah berakar kuat di Tanah Batak dan terus hidup hingga sekarang.
Kerja sama berbagai pihak
Pembangunan Salib Kasih tidak mungkin terwujud tanpa kebersamaan.
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menjadi salah satu penggerak utama bersama gereja-gereja mitra yang mendukung gagasan tersebut.
Pemerintah daerah juga memberikan dukungan dalam pengembangan kawasan sebagai destinasi wisata rohani sekaligus pelestarian sejarah.
Di sisi lain, masyarakat Batak turut ambil bagian melalui doa, tenaga, pemikiran, maupun dukungan lainnya.
Semangat gotong royong menjadi kekuatan yang memperlihatkan bahwa Salib Kasih adalah milik bersama, bukan hanya milik satu lembaga atau kelompok.
Dari pembangunan hingga peresmian
Setelah melalui tahap perencanaan dan persiapan, pembangunan monumen dimulai dengan memperhatikan kondisi perbukitan Siatas Barita yang menantang.
Prosesnya membutuhkan kerja keras karena akses menuju lokasi saat itu belum semudah sekarang.
Perlahan tetapi pasti, Salib Kasih akhirnya berdiri menjulang di atas bukit sebagai lambang kasih Kristus bagi semua orang.
Setelah seluruh pekerjaan selesai, monumen ini diresmikan dan mulai dibuka bagi masyarakat.
Sejak saat itu, ribuan peziarah, wisatawan, serta umat Kristiani dari berbagai daerah datang untuk berdoa, mengenang sejarah pekabaran Injil, dan menikmati keindahan alam Tarutung.
Kini Salib Kasih bukan hanya menjadi tujuan wisata rohani, tetapi juga ruang refleksi yang mengingatkan setiap orang akan pengorbanan, kasih, dan kesetiaan para pelayan Tuhan yang telah menanam benih Injil di Tanah Batak.
Menjaga warisan Iman
Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan yang telah diterima.
Salib Kasih bukan sekadar tempat untuk berfoto atau menikmati panorama, melainkan monumen yang mengandung kisah perjuangan, pengorbanan, dan kasih Allah yang dinyatakan melalui pelayanan para pekabar Injil.
Karena itu, generasi masa kini dan yang akan datang dipanggil untuk menghormati sejarah tersebut dengan menjaga kebersihan kawasan, merawat fasilitas yang ada, serta terus mewariskan nilai-nilai iman, kasih, dan persatuan kepada anak cucu.
Dengan demikian, Salib Kasih akan tetap berdiri bukan hanya sebagai bangunan yang megah, tetapi juga sebagai saksi hidup bahwa kasih Kristus terus bekerja dari generasi ke generasi.
“Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu.” (Ulangan 32: 7)
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong dan berbagai sumber









