“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita.”
Galatia 5:1
“Tuhan, merdekakanlah kami…”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun jika kita renungkan lebih dalam, ada doa yang sangat panjang di baliknya.
Hari ini kita bersyukur sebagai bangsa Indonesia yang telah menikmati kemerdekaan selama 81 tahun.
Kita mengenang perjuangan para pahlawan yang memberikan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi sebuah bangsa yang bebas dari penjajahan.
Tetapi setelah 81 tahun merdeka, kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: benarkah kita sudah merdeka?
Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan
Kemerdekaan tidak berhenti pada bebasnya sebuah bangsa dari penjajahan.
Ada bentuk penjajahan lain yang bisa masuk diam-diam ke dalam kehidupan manusia: keserakahan, kebencian, ketidakjujuran, korupsi, kesombongan, ketidakadilan, dan keinginan untuk menguasai orang lain.
Karena itu, doa “Tuhan, merdekakanlah kami” dapat menjadi doa bagi bangsa sekaligus bagi diri kita sendiri.
Tuhan, merdekakanlah kami dari keserakahan yang membuat kami tidak pernah merasa cukup.
Merdekakanlah kami dari keinginan mengambil sesuatu yang bukan hak kami, dan dari kebencian yang membuat kami sulit melihat sesama sebagai saudara.
Juga, dari kepentingan diri sendiri yang membuat kami lupa bahwa kehidupan ini juga tentang berbagi dan melayani.
Kristus memerdekakan kita untuk melakukan yang benar
Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Galatia bahwa Kristus telah memerdekakan kita.
Kemerdekaan dalam Kristus bukan berarti kita bebas melakukan apa saja sesuka hati.
Justru membawa kita kepada kehidupan yang bertanggung jawab.
Galatia 5:13 berkata:
“Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
Inilah salah satu wajah kemerdekaan yang sering kita lupakan.
Orang yang merdeka bukan orang yang merasa paling berkuasa.
Tetapi, sebagai orang yang tidak lagi diperbudak oleh ego, sehingga ia mampu mengasihi, melayani, mengampuni dan memperjuangkan kebaikan bersama.
Kemerdekaan harus dirawat
Kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan tidak boleh kita anggap sebagai sesuatu yang otomatis akan bertahan selamanya, tetapi harus dirawat.
Ia dirawat ketika kita memilih kejujuran meskipun ada kesempatan untuk berbuat curang.
Ketika kita menolak korupsi meskipun godaan untuk mengambil keuntungan begitu besar.
Kemudian, di saat kita memperjuangkan keadilan meskipun mungkin kita tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.
Kemerdekaan dirawat ketika kita menghargai perbedaan dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling membenci.
Terawat ketika orang yang memiliki kekuasaan menggunakannya untuk melayani, bukan untuk menindas.
Dan ia dirawat ketika setiap warga negara menyadari bahwa Indonesia bukan hanya milik generasi hari ini, tetapi juga milik anak cucu yang akan datang.
Jangan sampai kita Merdeka secara bangsa, tetapi terjajah dalam hati
Ada sebuah ironi yang patut kita renungkan.
Kita bisa hidup di negara yang merdeka, tetapi hati kita masih diperbudak oleh keserakahan.
Bisa berbicara tentang kebebasan, tetapi tidak memberi ruang bagi orang lain.
Dapat mengibarkan Sang Merah Putih, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru mengabaikan kejujuran dan keadilan.
Karena itu, pada peringatan kemerdekaan ini, mungkin doa kita perlu lebih dalam:
Tuhan, merdekakanlah kami dari segala sesuatu yang membuat kami kehilangan kemanusiaan.
Merdekakan hati kami agar mampu mengasihi, dan pikiran kami agar mampu melihat kebenaran.
Kemudian, merdekakan tangan kami agar tidak mengambil yang bukan hak kami.
Serta merdekakan langkah kami agar selalu berpihak kepada keadilan.
Dan merdekakan bangsa kami agar semakin jauh dari korupsi, kolusi, nepotisme, keserakahan dan segala bentuk ketidakadilan.
Merdeka untuk menjadi berkat
Kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang boleh kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang seharusnya kita lakukan.
Kita telah menerima kemerdekaan sebagai warisan dari para pejuang bangsa.
Sekarang tugas kita adalah menjaganya agar tidak kehilangan makna.
Mari mengisi kemerdekaan dengan kehidupan yang jujur, merawatnya dengan keadilan, mempertahankannya dengan persatuan, dan menjaganya dengan kasih.
Dan sebagai orang percaya, mari kita membawa kemerdekaan itu menjadi berkat bagi sesama.
Sebab kemerdekaan yang sejati bukanlah kebebasan untuk hidup hanya bagi diri sendiri.
Kemerdekaan adalah kesempatan untuk melakukan yang benar, mengasihi sesama, melayani dengan tulus, dan menghadirkan kebaikan bagi kehidupan.
Tuhan, Merdekakanlah Kami…
Pada usia 81 tahun Indonesia merdeka, kiranya doa ini tidak hanya keluar dari bibir kita, tetapi juga menjadi komitmen dalam kehidupan:
Tuhan, merdekakanlah kami dari keserakahan.
Dari kebencian, ketidakjujuran, ketidakadilan.
Merdekakanlah kami dari segala sesuatu yang menjauhkan kami dari kasih dan kebenaran-Mu.
Dan ketika Engkau telah memerdekakan kami, ajarlah kami untuk menjaga kemerdekaan itu dengan tanggung jawab dan menggunakannya untuk menjadi berkat bagi Indonesia.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka! 🇮🇩
Tuhan memberkati Indonesia.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong






