KITA mengasihi bukan karena kita hebat, sempurna, atau selalu mendapatkan perlakuan baik dari orang lain.
Kita mengasihi karena Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi kita.
Kasih Tuhan menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk tetap memilih mengasihi, bahkan ketika hati sedang kecewa atau terluka.
1 Yohanes 4: 19-21 mengingatkan bahwa kasih kepada Tuhan tidak bisa dipisahkan dari kasih kepada sesama.
Mengaku mengasihi Tuhan tetapi membenci saudara adalah sesuatu yang bertentangan dengan iman yang kita ucapkan.
Kasih kepada Tuhan seharusnya terlihat dalam cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita.
Di zaman ketika perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan, Firman Tuhan mengajak kita mengambil jalan yang berbeda.
Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan kebencian.
Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan.
Kadang, memilih mengampuni dan tetap berbuat baik justru menjadi kesaksian iman yang paling kuat.
Mengasihi bukan berarti membiarkan diri terus disakiti.
Kita tetap boleh memberi batas, menegur dengan benar, dan menjauh dari hal-hal yang merusak.
Namun, hati kita tidak perlu dipenuhi kebencian.
Sebab ketika kebencian menguasai hati, kita sendiri yang kehilangan damai yang Tuhan berikan.
Hari ini, mari bertanya kepada diri sendiri: apakah kasih kepada Tuhan sudah terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama?
Mungkin ada seseorang yang perlu kita ampuni, ada yang perlu kita sapa kembali, atau ada yang hanya membutuhkan sedikit perhatian.
Karena kita telah lebih dahulu dikasihi Tuhan, mari menjadi suluh kecil yang membawa kasih di tengah dunia yang semakin mudah kehilangan kasih.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong






