Pernahkah kita membaca kitab Mazmur lalu menemukan kata “Sela” di tengah-tengah ayat?
Mungkin kita pernah bertanya, “Sebenarnya apa arti Sela?”
Kata sederhana ini ternyata mengajak kita melakukan sesuatu yang semakin sulit dilakukan manusia zaman sekarang: berhenti sejenak.
Kitab Mazmur sendiri memiliki 150 pasal. Di dalamnya kita menemukan pujian, doa, ratapan, pergumulan, pertobatan, ucapan syukur, pengharapan, bahkan pertanyaan kepada Tuhan.
Karena itu, Mazmur bukan hanya kumpulan nyanyian. Mazmur adalah gambaran perjalanan iman manusia bersama Tuhan.
150 pasal, beragam cerita kehidupan
Kalau kita membaca 150 pasal Mazmur secara keseluruhan, kita akan menemukan kehidupan dalam berbagai warna.
Ada saat ketika pemazmur bersukacita, takut, merasa tertekan, menangis dan bertanya kepada Tuhan.
Namun ada satu hal yang menarik: di tengah semua keadaan itu, pemazmur tetap membawa hidupnya kepada Tuhan.
Inilah salah satu alasan mengapa kitab Mazmur terasa begitu dekat dengan kehidupan kita.
Sebab kita pun mengalami hari-hari yang berbeda.
Hari ini mungkin kita berkata, “Tuhan, terima kasih.”
Besok mungkin kita berkata, “Tuhan, tolong aku.”
Pada hari yang lain kita mungkin hanya mampu berdiam diri di hadapan-Nya.
Mazmur memberi ruang untuk semuanya.
Lalu, apa arti “Sela”?
Kata “Sela” muncul berkali-kali dalam kitab Mazmur.
Makna persis kata Ibrani Selah memang tidak diketahui secara mutlak. Para ahli umumnya menghubungkannya dengan unsur musik atau liturgi dalam penyembahan Israel.
Karena itu, kita perlu berhati-hati untuk tidak mengatakan bahwa Sela secara pasti berarti satu kata tertentu.
Namun dalam pembacaan rohani, Sela dapat menjadi sebuah ajakan untuk berhenti, memberi jeda, dan merenungkan apa yang baru saja dinyatakan.
Bayangkan sebuah lagu.
Tidak semua bagian harus dinyanyikan tanpa berhenti. Ada jeda.
Ada saat ketika musik berhenti sejenak agar kita dapat merasakan dan memahami apa yang baru saja dinyanyikan.
Begitu juga ketika kita membaca Mazmur.
Sela.
Berhenti sebentar.
Renungkan.
Biarkan firman Tuhan masuk lebih dalam ke hati.
Sela di tengah dunia yang serba cepat
Kita hidup pada zaman yang hampir tidak memberi kesempatan untuk berhenti.
Bangun tidur, melihat ponsel.
Membuka media sosial.
Membaca berita.
Membalas pesan.
Bekerja.
Mengejar kebutuhan.
Lalu malam datang, tetapi pikiran masih terus berjalan.
Bahkan ketika membaca firman Tuhan, kita kadang terbawa kebiasaan yang sama: baca cepat, selesai, lalu pindah ke hal berikutnya.
Di sinilah pesan Sela terasa sangat relevan.
Berhentilah sejenak.
Jangan hanya membaca firman Tuhan.
Renungkan.
Apa yang sedang Tuhan katakan?,
yang sedang terjadi dalam hidup saya, yang perlu saya serahkan kepada Tuhan?, dan yang harus saya ubah?
Dari Mazmur 1 menuju Mazmur 150
Perjalanan 150 pasal Mazmur juga menarik untuk direnungkan.
Mazmur 1 mengawali kitab ini dengan gambaran tentang dua jalan kehidupan: jalan orang benar dan jalan orang fasik.
Kemudian perjalanan berlanjut melalui berbagai pergumulan manusia.
Ada peperangan, ketakutan, kesesakan, dosa dan pertobatan.
Ada pertanyaan, pengharapan, ucapan, syukur, dan pujian.
Seolah-olah 150 pasal itu membawa kita melewati perjalanan panjang kehidupan manusia bersama Tuhan.
Dan kemudian kita tiba di Mazmur 150.
Suasananya berubah menjadi ledakan pujian: “Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”
(Mazmur 150: 6)
Sebuah penutup yang sangat indah.
Setelah melewati begitu banyak pergumulan, kitab Mazmur berakhir dengan pujian kepada Tuhan.
Mungkin kita juga sedang berada di tengah “Mazmur” kita
Bukankah kehidupan kita juga seperti itu?
Ada bagian kehidupan yang terasa seperti Mazmur 23—penuh ketenangan karena kita merasakan Tuhan sebagai Gembala.
Kemudian ada masa yang terasa seperti Mazmur ratapan—ketika kita menangis dan tidak memahami apa yang sedang terjadi.
Selanjutnya ada masa ketika kita hanya bisa bertanya: “Tuhan, sampai kapan?”
Tetapi mungkin kita perlu mengingat:
Cerita kita belum selesai.
Kalau hari ini kita sedang berada dalam bagian hidup yang penuh pergumulan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Tuhan telah meninggalkan kita.
Mungkin kita sedang berada di tengah perjalanan.
Dan mungkin, di tengah perjalanan itu, Tuhan sedang berkata:
“Sela.”
Berhenti sebentar.
Tarik napas.
Datang kepada-Ku.
Percayalah.
Sela: Berhenti, bukan Menyerah
Ada perbedaan besar antara berhenti sejenak dan menyerah.
Sela bukan berarti berhenti berjalan selamanya.
Sela adalah kesempatan untuk mengambil napas, melihat kembali perjalanan, mendengarkan suara Tuhan, lalu melanjutkan langkah.
Kita tidak selalu membutuhkan jawaban yang cepat.
Kadang kita membutuhkan keheningan agar hati mampu mendengar.
Kadang Tuhan tidak langsung mengubah keadaan.
Tetapi Dia mengubah hati kita ketika kita datang kepada-Nya.
Dari tangisan menuju pujian
Inilah salah satu keindahan kitab Mazmur.
Mazmur tidak menyembunyikan air mata manusia.
Tetapi Mazmur juga tidak membiarkan kita tinggal selamanya di dalam air mata.
Perjalanan 150 pasal itu akhirnya membawa kita kepada pujian:
“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”
Mungkin keadaan kita hari ini belum berubah, persoalan masih ada, dan doa yang kita panjatkan belum mendapatkan jawaban seperti yang kita harapkan.
Tetapi kita masih bisa mengambil Sela.
Berhenti.
Berdoa.
Merenungkan firman Tuhan.
Dan kembali percaya bahwa Tuhan tetap hadir dalam perjalanan hidup kita.
Sela untuk kita hari ini
Kawanku, mungkin hari ini kita tidak perlu terburu-buru.
Ambillah waktu beberapa menit.
Buka kitab Mazmur.
Baca perlahan.
Jangan buru-buru menyelesaikan satu pasal.
Temukan satu ayat yang menyentuh hati.
Lalu…
Sela.
Berhenti sejenak.
Renungkan.
Bawa ayat itu dalam doa.
Sebab mungkin yang kita perlukan hari ini bukan lebih banyak suara dari dunia, melainkan sedikit keheningan untuk kembali mendengar suara Tuhan.
Dari Mazmur 1 sampai Mazmur 150, kita belajar bahwa perjalanan bersama Tuhan memiliki banyak musim.
Ada tangisan, ada pergumulan, ada pengharapan, dan akhirnya ada pujian.
Dan di tengah perjalanan itu, kita diingatkan:
Sela—berhenti sejenak, renungkan firman-Nya, lalu lanjutkan perjalanan bersama Tuhan.
Haleluya! 🙏
Penyebar: Shalom.click | Kiran Karin






