Pengharapan di tengah-tengah penderitaan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Renungan dari Mazmur 126
“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.”
— Mazmur 126: 5

ADA masa ketika hidup terasa begitu berat.

Kita sudah berdoa, tetapi keadaan belum berubah.

Sudah berusaha, tetapi hasilnya belum terlihat. Sudah bertahan, tetapi masalah seperti datang silih berganti.

Di saat seperti itu, mudah sekali hati bertanya, “Tuhan, kapan semua ini berakhir?”

Mazmur 126 berbicara kepada kita tentang satu hal penting: air mata bukan berarti Tuhan meninggalkan kita.

Pernah menangis, tetapi tetap berharap

Mazmur 126 menggambarkan umat Tuhan yang pernah mengalami pemulihan besar.

Mereka seperti orang yang bermimpi ketika Tuhan mengembalikan keadaan mereka.

Namun, setelah mengingat sukacita itu, pemazmur kembali memohon:

“Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN.”

Artinya, perjalanan iman tidak selalu berada di puncak sukacita.

Ada saatnya kita bersorak. Ada pula saatnya kita menangis.

Pada masa ketika doa kita terasa seperti mendapat jawaban dengan cepat. Tetapi ada juga masa ketika kita harus menunggu dalam kesunyian.

Dan justru di situlah pengharapan diuji.

Air mata tidak pernah sia-sia

Petani yang menabur benih tidak langsung melihat hasil panennya.

Ia menanam, merawat, menunggu hujan, menghadapi panas, bahkan mungkin menghadapi ancaman gagal panen.

Tetapi ia tetap menabur karena percaya bahwa suatu hari akan ada waktu untuk menuai.

Begitu juga kehidupan kita.

Ada doa yang hari ini masih kita taburkan, kebaikan yang belum mendapat balasan.

Perjuangan yang belum membuahkan hasil, dan air mata yang jatuh diam-diam tanpa diketahui orang lain.

Namun Tuhan melihat semuanya.

Mazmur 126 mengingatkan bahwa orang yang menabur dengan air mata akan menuai dengan sorak-sorai.

Bukan berarti setiap penderitaan langsung berakhir seperti yang kita inginkan.

Tetapi kita memiliki alasan untuk tetap berharap karena hidup kita berada dalam tangan Tuhan.

Jangan berhenti menabur

Ketika hidup sedang sulit, jangan berhenti melakukan kebaikan.

Jangan berhenti berdoa.

Tetaplah mengasihi.

Teruslah bekerja dan berusaha.

Jangan berhenti percaya.

Mungkin hari ini kita belum melihat hasilnya. Tetapi jangan menganggap benih yang kita tabur itu sia-sia.

Tuhan bekerja bahkan ketika mata kita belum mampu melihat pekerjaan-Nya.

Pengharapan bukan berarti kita tidak pernah menangis. Pengharapan berarti kita tetap percaya kepada Tuhan meskipun air mata masih mengalir.

Tuhan tidak melupakanmu

Mungkin ada seseorang yang sedang membaca renungan ini dalam keadaan lelah, sedang menghadapi persoalan ekonomi, sedang menanggung beban keluarga, dan sedang kecewa karena doa yang belum terjawab.

Atau mungkin sedang tersenyum di depan banyak orang, tetapi sebenarnya hati sedang menangis.

Kawanku, jangan menyerah.

Air matamu tidak tersembunyi dari Tuhan.

Pergumulanmu tidak luput dari perhatian-Nya.

Tetaplah menabur.

Teruslah berjalan.

Senantiasalah percaya.

Sebab bisa jadi, apa yang hari ini kita sebut sebagai air mata, kelak akan kita lihat sebagai bagian dari perjalanan menuju sukacita yang Tuhan sediakan.

Doa

Tuhan, ketika hidup terasa berat dan air mata kami tidak lagi mampu kami sembunyikan, ajarlah kami untuk tetap berharap kepada-Mu. Berikan kekuatan untuk terus menabur kebaikan, tetap berdoa, tetap mengasihi dan tidak menyerah. Kami percaya, Engkau tidak pernah meninggalkan kami. Ubahlah air mata kami menjadi sukacita pada waktu-Mu. Amin.

Renungan Hari Ini

Jangan takut dengan musim air mata. Tetaplah menabur dengan iman, sebab Tuhan sanggup mengubah air mata menjadi sukacita pada waktu-Nya.

Penyebar: Shalom.click | Ebenezer

Shalom.click — Menyalakan Pengharapan, Menebarkan Kasih.

Berita Terkait

Memenangkan hati yang gelisah dengan Tuhan
RENUNGAN PAGI, Jangan berhenti mengetuk
Merdeka bukan berarti semau gue
Di muka Tuhan Yesus, betapa hina diriku
Ketika MATA menjadi JENDELA HATI
Tuhan merdekakanlah kami…
Bersabar dalam penderitaan: Tuhan tidak pernah terlambat
Doa Yabes: bukan sekadar minta diberkati, tapi minta Tuhan menyertai
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 05:22 WIB

RENUNGAN PAGI, Jangan berhenti mengetuk

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:49 WIB

Merdeka bukan berarti semau gue

Senin, 24 Agustus 2026 - 03:17 WIB

Di muka Tuhan Yesus, betapa hina diriku

Jumat, 21 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Ketika MATA menjadi JENDELA HATI

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:29 WIB

Tuhan merdekakanlah kami…

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Karena kita telah lebih dahulu dikasihi

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:43 WIB