Belajar dari Ignasius Jonan, Pemimpin yang membenahi dari hal-hal sederhana

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ADA pemimpin yang datang membawa banyak slogan. Ada pula pemimpin yang datang membawa perubahan.

Nah… Ignasius Jonan termasuk yang menarik untuk dipelajari.

Ketika ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada 2009, Jonan bukanlah orang yang tumbuh dari dunia perkeretaapian. Ia datang dari dunia perbankan.

Tetapi justru dari luar itulah ia melihat sesuatu yang mungkin sudah terlalu lama dianggap biasa.

Jonan pun melihat, kereta api Indonesia saat itu menghadapi banyak persoalan.

Stasiun tidak terawat. Calo masih berkeliaran. Pedagang asongan masuk ke gerbong.

Penumpang berdesakan. Bahkan pemandangan penumpang bergelantungan di atap kereta pernah menjadi gambaran buruk pelayanan kereta api.

Terkait masalah tersebut, Jonan tidak memulai pembenahan dengan pidato panjang.

Ia mulai dengan melihat kenyataan.

Melihat manusia sebelum melihat angka

Salah satu hal yang menarik perhatian Jonan adalah kesejahteraan pegawai.

Ia menemukan bahwa penghasilan seorang kepala stasiun besar seperti Gambir pada masa itu sangat rendah dibandingkan tanggung jawab yang harus dipikul.

Jonan kemudian memperbaiki sistem remunerasi.

Ia juga mendorong sistem promosi yang lebih mempertimbangkan kinerja.

Pesannya sederhana: Orang yang diberi tanggung jawab besar harus dihargai secara layak dan dinilai berdasarkan kinerjanya.

Di sinilah kita menemukan sebuah pelajaran kepemimpinan.

Seorang pemimpin tidak hanya bertanya: “Berapa keuntungan perusahaan?”

Tetapi juga: “Bagaimana keadaan orang-orang yang bekerja di dalamnya?”

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar

Jonan kemudian menyentuh berbagai hal yang mungkin bagi sebagian orang terlihat sepele.

Tiket ditata. Sistem boarding diperbaiki. Penumpang tanpa tiket ditertibkan. Pedagang asongan dan calo ditindak.

Larangan merokok ditegakkan. Fasilitas stasiun dibersihkan. Bahkan toilet menjadi bagian dari perhatian.

Mengapa?

Karena bagi seorang pemimpin, hal kecil yang terus dibiarkan akhirnya menjadi masalah besar.

Sebaliknya, hal kecil yang dibenahi terus-menerus dapat menghasilkan perubahan besar.

Toilet yang bersih mungkin tidak mengubah dunia. Tetapi toilet yang bersih memberi pesan: “Kami menghargai orang yang menggunakan tempat ini.”

Antrean yang tertib mungkin bukan prestasi besar.

Tetapi ia mengajarkan: “Hak orang lain harus dihormati.”

Aturan yang ditegakkan mungkin terlihat sederhana.

Tetapi ia mengajarkan: “Kepentingan bersama tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan pribadi.”

Integritas bukan sekadar kata

Di sinilah kisah Jonan menjadi relevan bagi Generasi Terang.

Menjadi terang bukan hanya berbicara tentang iman.

Menjadi terang juga berarti membawa nilai-nilai kebaikan ketika kita dipercaya memegang tanggung jawab.

Di sekolah, kampus, tempat kerja, organisasi, dan gereja.

Bahkan ketika suatu hari kita dipercaya memimpin sebuah perusahaan atau lembaga negara.

Terang tidak perlu berteriak, cukup hadir dan membuat keadaan menjadi lebih baik.

Ketika orang lain terbiasa datang terlambat, kita belajar tepat waktu.

Saat orang lain menganggap korupsi kecil sebagai sesuatu yang biasa, kita memilih jujur.

Orang lain menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, kita memilih melayani.

Ketika sistem sudah lama berjalan tidak benar, kita berani mengatakan:

“Ini harus diperbaiki.”

Pemimpin tidak hanya mengubah sistem

Salah satu pelajaran terpenting dari kisah KAI adalah bahwa perubahan sistem harus berjalan bersama perubahan manusia.

Teknologi bisa dibuat. Aturan bisa ditulis. Gedung bisa direnovasi.

Tetapi tanpa manusia yang memiliki integritas, semua itu mudah kembali rusak.

Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya mengejar pendidikan tinggi.

Kita membutuhkan karakter, kejujuran, serta keberanian.

Dan yang tidak kalah penting: kita membutuhkan kerendahan hati untuk turun melihat persoalan yang sebenarnya.

Ketika pelayanan menghasilkan kepercayaan

Perubahan yang dilakukan KAI pada akhirnya tercermin dalam kinerja perusahaan.

Pendapatan dan laba perusahaan meningkat selama masa kepemimpinan Jonan.

Tetapi angka-angka itu seharusnya tidak menjadi satu-satunya pelajaran.

Yang lebih penting adalah prosesnya.

Ia membenahi manusia, pelayanan, disiplin dan sistem.

Kemudian hasil finansial mengikuti.

Bukankah dalam kehidupan juga demikian?

Kita sering mengejar hasil. Padahal Tuhan juga melihat proses.

Saat ingin berhasil. Apakah kita mau belajar disiplin?

Kita ingin dipercaya. Tetapi apakah kita bisa menjaga kejujuran?

Saat ingin menjadi pemimpin. Apakah kita sudah belajar melayani?

Generasi Terang Harus Berani Membenahi

Generasi terang bukan generasi yang merasa dirinya paling hebat.

Mereka adalah generasi yang ketika hadir, keadaan menjadi sedikit lebih baik.

Jika menemukan kekacauan, ia ikut menata.

Saat melihat ketidakjujuran, ia memilih jujur.

Kala melihat orang lain kesulitan, ia membantu.

Diberi jabatan, ia tidak bertanya: “Apa yang bisa saya dapatkan?”

Tetapi: “Apa yang bisa saya lakukan?”

Itulah kepemimpinan yang layak dipelajari.

Dan mungkin, inilah pesan yang bisa kita bawa dari kisah Ignasius Jonan:

Perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang dimulai dari hal sederhana yang selama ini kita anggap tidak penting.

Dari antrean, toilet yang bersih, aturan yang ditegakkan, pegawai yang dihargai, dan pelayanan yang sungguh-sungguh.

Dan dari seorang pemimpin yang berani turun melihat kenyataan.

Menjadi terang dimulai dari diri sendiri

Kita mungkin belum menjadi direktur, menjadi pejabat, dan menjadi pemimpin perusahaan.

Oleh karena itu, kita semua sedang belajar menjadi pemimpin bagi kehidupan kita sendiri.

Maka jangan menunggu memiliki jabatan untuk mulai melakukan perubahan.

Mulailah sekarang, untuk jujur ketika tidak ada yang melihat.

Disiplin ketika tidak ada yang mengawasi.

Melayani ketika tidak mendapatkan pujian.

Berani memperbaiki ketika orang lain memilih membiarkan.

Sebab terang tidak perlu menunggu menjadi besar untuk menerangi.

Satu cahaya kecil pun tetap berarti di tengah kegelapan.

Dan mungkin, dari sanalah Generasi Terang benar-benar dimulai.

Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong 

Berita Terkait

Sadie Robertson Huff: Bersinar bagi Kristus di tengah Dunia Digital
Suster Alessandra Smerilli, Prefek Baru Dikasteri untuk Pengembangan Manusia Integral
Mangatas Silalahi berkunjung ke Rumbai Milton Ministry Las Rohangku, sampaikan firman Tuhan
Anak Rumbai Milton Ministry Las Rohangku sikapi pembullyan sebagai tindakan tidak baik
Ketika kepercayaan runtuh, siapa yang akan jadi terang?
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:37 WIB

Belajar dari Ignasius Jonan, Pemimpin yang membenahi dari hal-hal sederhana

Senin, 20 Juli 2026 - 15:37 WIB

Sadie Robertson Huff: Bersinar bagi Kristus di tengah Dunia Digital

Sabtu, 4 Juli 2026 - 20:00 WIB

Suster Alessandra Smerilli, Prefek Baru Dikasteri untuk Pengembangan Manusia Integral

Jumat, 29 Mei 2026 - 00:25 WIB

Mangatas Silalahi berkunjung ke Rumbai Milton Ministry Las Rohangku, sampaikan firman Tuhan

Rabu, 27 Mei 2026 - 22:27 WIB

Anak Rumbai Milton Ministry Las Rohangku sikapi pembullyan sebagai tindakan tidak baik

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Karena kita telah lebih dahulu dikasihi

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:43 WIB