“KARENA itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan seiman kita.”
DUNIA sedang menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan.
Harga kebutuhan pokok terus meningkat, lapangan pekerjaan semakin terbatas, dan banyak keluarga hidup dalam kecemasan menghadapi hari esok.
Di tengah keadaan seperti ini, muncul pertanyaan penting: di manakah peran gereja?
Gereja tentu memiliki tanggung jawab untuk mendampingi jemaatnya.
Mereka yang kehilangan pekerjaan, terlilit utang, atau mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup memerlukan perhatian, doa, penghiburan, dan bantuan nyata.
Namun, panggilan gereja tidak berhenti pada lingkup internal. Firman Tuhan mengajarkan agar kita berbuat baik kepada semua orang.
Kasih Kristus tidak mengenal batas suku, agama, maupun status sosial.
Sejarah menunjukkan bahwa ketika dunia dilanda bencana, wabah, kelaparan, atau peperangan, banyak gereja hadir sebagai tempat perlindungan.
Mereka membuka dapur umum, membangun rumah sakit, mendirikan sekolah, menyediakan bantuan pangan, dan memberi pendampingan bagi mereka yang menderita.
Kesaksian seperti inilah yang membuat banyak orang melihat kasih Allah melalui tindakan nyata, bukan hanya melalui kata-kata.
Di tengah krisis ekonomi saat ini, gereja dapat menjadi penggerak kepedulian sosial.
Jemaat yang memiliki kemampuan dapat diajak berbagi dengan mereka yang kekurangan.
Gereja dapat menyelenggarakan pelatihan keterampilan, membantu usaha mikro, membuka layanan konseling bagi keluarga yang tertekan secara ekonomi, serta membangun kemitraan dengan berbagai komunitas demi memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Bahkan, gereja dapat menjadi jembatan yang mempertemukan mereka yang membutuhkan pekerjaan dengan pihak yang membuka kesempatan kerja.
Yang tidak kalah penting adalah membangun persaudaraan lintas iman dalam semangat kemanusiaan.
Kemiskinan tidak memilih agama, demikian pula kepedulian seharusnya tidak dibatasi oleh perbedaan keyakinan.
Ketika gereja bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat untuk menolong mereka yang membutuhkan, gereja sedang menghadirkan damai sejahtera Allah bagi lingkungan sekitarnya.
Sikap seperti ini bukan berarti mengaburkan iman, melainkan mewujudkan kasih Kristus yang melayani semua orang.
Di tengah dunia yang sering diwarnai persaingan dan sikap mementingkan diri sendiri, gereja dipanggil menjadi komunitas yang menghadirkan pengharapan.
Kabar Baik bukan hanya terdengar dari mimbar, tetapi juga terlihat melalui tangan yang memberi, telinga yang mau mendengar, dan hati yang terbuka bagi siapa pun yang sedang bergumul.
Kiranya gereja-gereja di seluruh dunia semakin berani keluar dari tembok gedungnya dan hadir di tengah masyarakat sebagai sahabat bagi mereka yang lemah.
Sebab ketika gereja menjadi saluran kasih Allah, dunia akan melihat bahwa terang Kristus masih bersinar di tengah masa-masa yang gelap.
Doa:
Tuhan Yesus, pakailah gereja-Mu menjadi pembawa pengharapan di tengah krisis ekonomi yang melanda dunia.
Ajarlah kami untuk tidak hanya memperhatikan kebutuhan sesama orang percaya, tetapi juga mengulurkan kasih kepada semua orang yang sedang menderita.
Jadikan setiap gereja sebagai rumah pengharapan, tempat kasih-Mu nyata dirasakan oleh banyak orang.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Penyebar: Shalom.click | Kiran Karin









