Resensi Buku: The Ruthless Elimination of Hurry (Menyingkirkan Ketergesaan)
Penulis: John Mark Comer
DI zaman serba cepat, banyak orang mengukur keberhasilan dari seberapa sibuk mereka.
Kalender yang penuh, notifikasi yang terus berbunyi, serta tuntutan pekerjaan dan media sosial membuat manusia hidup dalam ritme yang melelahkan.
Tanpa disadari, ketergesaan bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan menjadi gaya hidup.
Melalui buku The Ruthless Elimination of Hurry, John Mark Comer mengajak pembaca berhenti sejenak dan bertanya, “Apakah hidup yang terburu-buru benar-benar membawa kita kepada tujuan yang Tuhan kehendaki?“
Menurut penulis, musuh terbesar kehidupan rohani bukan hanya dosa yang tampak, tetapi juga ketergesaan yang terus-menerus.
Hati yang selalu terburu-buru sulit mendengar suara Tuhan, sulit mengasihi sesama, bahkan kehilangan sukacita dalam menjalani hidup.
Salah satu gagasan utama buku ini adalah bahwa Yesus tidak pernah hidup tergesa-gesa.
Meski banyak orang membutuhkan-Nya, Ia tetap menyediakan waktu untuk berdoa, berdiam diri, berjalan bersama murid-murid, dan menikmati persekutuan dengan Bapa.
Kecepatan dunia tidak pernah menentukan langkah pelayanan-Nya.
John Mark Comer menawarkan beberapa disiplin rohani untuk melawan budaya tergesa-gesa, seperti mempraktikkan hari Sabat, menyediakan waktu hening setiap hari, membatasi penggunaan teknologi, hidup sederhana, serta belajar hadir sepenuhnya bagi Tuhan dan sesama.
Buku ini tidak sekadar mengkritik budaya modern, tetapi memberikan langkah-langkah praktis untuk membangun kehidupan yang lebih tenang, sehat, dan berpusat kepada Kristus.
Pembaca diajak memahami bahwa produktivitas bukan ukuran utama keberhasilan.
Yang jauh lebih penting adalah kesetiaan berjalan bersama Tuhan.
Bagi orang percaya, buku ini menjadi pengingat bahwa damai sejahtera bukan ditemukan ketika semua pekerjaan selesai, melainkan ketika hidup berada dalam irama kasih karunia Allah.
Dunia mungkin menuntut kita berlari semakin cepat, tetapi Tuhan sering kali berbicara dalam keheningan.
Refleksi
Kesibukan memang tidak selalu salah. Namun ketika kesibukan membuat kita kehilangan waktu bersama Tuhan, keluarga, dan sesama, saat itulah kita perlu mengevaluasi kembali arah hidup.
Ketergesaan dapat mencuri sukacita, mengikis kasih, dan melemahkan iman.
Buku The Ruthless Elimination of Hurry mengajak kita berani memperlambat langkah, bukan karena malas, tetapi agar memiliki ruang untuk mendengar suara Tuhan dan menjalani hidup dengan penuh makna.
“Hidup yang dipenuhi damai sejahtera bukanlah hidup tanpa pekerjaan, melainkan hidup yang berjalan sesuai ritme kasih karunia Tuhan.”
Penyebar: Shalom.click | Ebenezer









