“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
DI berbagai belahan dunia, suara ledakan senjata masih terdengar. Konflik bersenjata, ketegangan politik, dan kebencian antarkelompok terus memakan korban.
Ketika banyak pihak memilih kekuatan militer sebagai jalan keluar, gereja di berbagai negara justru mengangkat suara yang berbeda: menyerukan perdamaian, rekonsiliasi, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.
Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai gereja Protestan dunia bersama para pemimpin Kristen lintas denominasi kembali mengajak pemerintah, masyarakat, dan komunitas internasional untuk menghentikan kekerasan serta membuka ruang dialog.
Mereka mengingatkan bahwa tidak ada kemenangan sejati jika harus dibayar dengan hilangnya nyawa manusia dan hancurnya masa depan generasi berikutnya.
Sikap ini bukanlah bentuk kelemahan. Sebaliknya, gereja sedang menjalankan panggilannya sebagai saksi Kristus, Sang Raja Damai.
Sejak awal, Yesus mengajarkan bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian dan pengampunan lebih berkuasa daripada pembalasan.
Di tengah budaya yang sering memuliakan kekuatan dan balas dendam, gereja dipanggil menghadirkan nilai Kerajaan Allah.
Perdamaian bukan berarti mengabaikan keadilan, melainkan memperjuangkan keadilan tanpa kehilangan kasih.
Gereja harus berani menjadi jembatan ketika masyarakat terpecah, menjadi suara pengharapan ketika dunia dipenuhi ketakutan, dan menjadi pelayan rekonsiliasi ketika hubungan antarmanusia retak.
Pesan ini juga relevan bagi kehidupan sehari-hari. “Perang” tidak hanya terjadi di medan tempur.
Ia bisa muncul dalam keluarga yang dipenuhi pertengkaran, di tempat kerja yang sarat persaingan tidak sehat, di media sosial yang penuh ujaran kebencian, bahkan di dalam hati yang sulit mengampuni.
Karena itu, panggilan menjadi pembawa damai dimulai dari diri sendiri.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk memilih jalan yang mungkin tidak populer: mengampuni ketika disakiti, berdialog ketika berbeda pendapat, merangkul ketika orang lain menjauh, dan tetap mengasihi ketika dunia mengajarkan kebencian.
Di saat dunia terus mempertontonkan konflik, gereja harus terus mempertontonkan kasih.
Ketika dunia memilih perang, gereja harus tetap memilih jalan damai. Sebab damai bukan sekadar cita-cita manusia, melainkan kehendak Allah bagi ciptaan-Nya.
Refleksi: Apakah saya menjadi pembawa damai di lingkungan tempat Tuhan menempatkan saya, atau justru ikut memperbesar konflik melalui perkataan, sikap, dan tindakan?
Doa:
Tuhan Yesus, jadikanlah kami pembawa damai di tengah dunia yang penuh pertikaian.
Ajarlah kami mengalahkan kebencian dengan kasih, membalas kejahatan dengan kebaikan, dan menjadi saksi-Mu yang menghadirkan damai di mana pun kami berada. Amin.
Penyebar: Shalom.click | Kiran Karin









