Ketika Perempuan dipercaya memimpin: Apa yang sedang diubah Gereja, dan Apa yang tetap dipertahankan?

Sabtu, 4 Juli 2026 - 20:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Tidak ada lagi orang Yahudi atau Yunani, tidak ada lagi hamba atau orang merdeka, tidak ada lagi laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3: 28)

 

Oleh | Ebenezer

 

KEPUTUSAN – keputusan terbaru di Vatikan yang memberikan kepercayaan lebih besar kepada kaum perempuan untuk menduduki jabatan-jabatan penting kembali mengundang perhatian dunia.

Sebagian menyebutnya sebagai langkah revolusioner, sebagian lagi menganggapnya sebagai bentuk penyesuaian Gereja terhadap perkembangan zaman.

Namun, benarkah Gereja sedang mengubah ajarannya?

Pertanyaan ini layak dijawab dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.

Yang sedang berubah sebenarnya bukanlah fondasi iman Gereja, melainkan cara Gereja memanfaatkan seluruh karunia yang Allah berikan kepada umat-Nya.

Selama berabad-abad, perempuan telah menjadi kekuatan yang senyap namun nyata dalam kehidupan Gereja.

Mereka hadir sebagai ibu yang menanamkan iman di dalam keluarga, sebagai biarawati yang mengabdikan hidup bagi pendidikan dan pelayanan kesehatan, sebagai katekis, teolog, misionaris, hingga pelayan bagi kaum miskin.

Kini, pengalaman dan kemampuan itu semakin diakui pula dalam bidang kepemimpinan dan tata kelola.

Perubahan ini tidak berarti Gereja meninggalkan Tradisi Suci. Gereja Katolik tetap mempertahankan ajaran mengenai tahbisan imam sebagaimana yang diwariskan sejak zaman para rasul.

Yang berkembang adalah pemahaman bahwa banyak bentuk kepemimpinan di dalam Gereja tidak berkaitan langsung dengan pelayanan sakramental.

Bidang administrasi, ekonomi, pendidikan, komunikasi, diplomasi, hingga pengembangan manusia membutuhkan orang-orang yang memiliki integritas, kebijaksanaan, dan kompetensi, tanpa memandang jenis kelamin.

Sesungguhnya, Kitab Suci sendiri memperlihatkan bahwa Allah telah lama memakai perempuan dalam karya penyelamatan-Nya.

Maria, ibu Yesus, menjadi teladan ketaatan yang sempurna. Maria Magdalena menjadi saksi pertama kebangkitan Kristus.

Priskila bersama suaminya mengajar iman kepada banyak orang percaya. Febe dipuji Rasul Paulus sebagai pelayan jemaat yang setia.

Semua itu menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap sejarah Gereja, melainkan bagian penting dari karya Allah.

Sayangnya, dalam praktik kehidupan bergereja maupun bermasyarakat, masih ada budaya yang menganggap kepemimpinan hanya pantas dipegang laki-laki.

Penilaian sering kali lebih didasarkan pada jenis kelamin daripada karakter dan kemampuan.

Padahal, Allah sendiri tidak memandang seperti manusia memandang. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.

Perkembangan di Vatikan menjadi cermin bagi semua gereja, termasuk gereja-gereja di Indonesia.

Sudahkah kita memberi ruang bagi setiap orang untuk melayani sesuai panggilan dan karunia yang Tuhan berikan? Ataukah kita masih terikat oleh kebiasaan dan budaya yang membatasi kesempatan seseorang hanya karena ia perempuan?

Di sisi lain, perempuan yang dipercaya memimpin juga memikul tanggung jawab besar.

Kepercayaan bukanlah hak yang harus dituntut, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Kepemimpinan Kristen bukan tentang kekuasaan, melainkan pelayanan.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk hidup rendah hati, bijaksana, dan menjadi teladan.

Pada akhirnya, yang sedang diubah Gereja bukanlah Injil, bukan pula kebenaran iman yang diwariskan para rasul.

Yang sedang diperbarui adalah cara Gereja menghadirkan seluruh potensi umat Allah demi pelayanan yang lebih efektif dan semakin menyentuh kebutuhan manusia.

Dunia tidak membutuhkan lebih banyak pemimpin yang haus jabatan. Dunia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang rela melayani.

Dan ketika Allah memanggil seseorang untuk melayani, yang terutama bukanlah apakah ia laki-laki atau perempuan, melainkan apakah ia setia, memiliki integritas, dan bersedia menjadi alat di tangan Tuhan.

Kiranya Gereja di segala tempat terus menjadi komunitas yang mampu mengenali setiap karunia, menghargai setiap panggilan, dan memberi ruang bagi setiap pribadi untuk melayani demi kemuliaan Allah dan kesejahteraan sesama.

Sebab di dalam Kristus, setiap pelayanan yang lahir dari kasih akan selalu menjadi berkat bagi dunia.

Penyebar: Shalom.click

Berita Terkait

Jakarta Menjadi Titik Temu Gereja Asia
Wesly sambut kunjungan AHY, Sinode Besar GPI jadi momentum perkuat persatuan dan pelayanan gereja
Vatikan percayakan Mgr. Walter Erbì untuk Indonesia: Misi persaudaraan, dialog, dan damai
Kabar baik hari ini: Tuhan hadir dalam hal-hal sederhana
Ketika hak tidak menjadi segalanya
KKR Emak-emak Pejuang Ekonomi Keluarga, Lasma Sianturi: Jiwa dan Roh harus tetap bersatu
Wali Kota Pematangsiantar Sambut Rencana Penutupan Sinode Besar GPI
Tetap teguh dalam kebenaran di tengah ketidakadilan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 20:26 WIB

Ketika Perempuan dipercaya memimpin: Apa yang sedang diubah Gereja, dan Apa yang tetap dipertahankan?

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:32 WIB

Jakarta Menjadi Titik Temu Gereja Asia

Jumat, 3 Juli 2026 - 20:39 WIB

Vatikan percayakan Mgr. Walter Erbì untuk Indonesia: Misi persaudaraan, dialog, dan damai

Kamis, 25 Juni 2026 - 07:09 WIB

Kabar baik hari ini: Tuhan hadir dalam hal-hal sederhana

Sabtu, 20 Juni 2026 - 01:06 WIB

Ketika hak tidak menjadi segalanya

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

Budaya malu yang mulai hilang

Sabtu, 4 Jul 2026 - 13:18 WIB

KABAR BAIK HARI INI

Jakarta Menjadi Titik Temu Gereja Asia

Sabtu, 4 Jul 2026 - 10:32 WIB

NAFAS KASIH

Kasih yang tidak memilih

Sabtu, 4 Jul 2026 - 08:34 WIB