BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur.”
— Amsal 30:27

ADA sesuatu yang menarik dari belalang.

Mereka tidak punya raja.

Tidak ada seekor belalang yang berdiri di depan sambil berkata, “Ikuti saya!”

Tidak ada jabatan, pangkat, dan struktur organisasi.

Namun Alkitab mencatat sesuatu yang membuat kita perlu berhenti sejenak:

“Semuanya berbaris dengan teratur.”

Manusia punya pemimpin, tetapi mengapa sulit bersatu?

Ini pertanyaan yang agak menggelitik.

Manusia punya pemimpin.

Ada ketua, ada wakil, ada pengurus, ada direktur, ada kepala, bahkan ada aturan yang mengatur bagaimana semuanya harus berjalan.

Tetapi mengapa kadang-kadang justru sulit berjalan bersama?

Karena ternyata memiliki pemimpin tidak otomatis membuat manusia memiliki kesatuan hati.

Kadang yang menghalangi bukan kurangnya aturan.

Bukan pula kurangnya pemimpin.

Tetapi ego.

Kita ingin pendapat kita yang menang, nama kita disebut, ingin dihargai, dan ingin berada di depan.

Dan ketika keinginan itu tidak terpenuhi, kebersamaan mulai retak.

Belalang tidak sibuk mencari siapa yang paling hebat

Belalang tidak perlu menunjukkan siapa yang paling kuat.

Mereka bergerak bersama.

Yang satu tidak sibuk menjatuhkan yang lain.

Tidak berusaha terlihat paling penting.

Mereka hanya melakukan bagian mereka.

Sederhana.

Tetapi justru di situlah kekuatannya.

Bayangkan kalau manusia mampu melakukan hal yang sama.

Tidak harus selalu menjadi orang paling depan, nggak harus selalu mendapatkan pujian.

Apalagi harus selalu menang dalam perdebatan.

Kadang-kadang menjadi bagian dari sebuah kebaikan jauh lebih penting daripada menjadi pusat perhatian.

Bersatu bukan berarti harus selalu sama

Ada hal lain yang perlu kita pahami.

Bersatu bukan berarti semua orang harus mempunyai pendapat yang sama.

Kita boleh berbeda.

Berbeda cara berpikir, pengalaman, latar belakang, dan bahkan berbeda pilihan dalam banyak hal.

Tetapi perbedaan tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Kita bisa berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat.

Bisa mengkritik tanpa merendahkan.

Boleh tidak setuju tanpa membenci.

Itulah kedewasaan.

Jangan sampai manusia kalah dari belalang

Mungkin ini bagian yang paling menampar.

Belalang yang tidak mempunyai raja saja mampu bergerak dengan teratur.

Sementara manusia yang memiliki akal, hati nurani, ilmu pengetahuan, pemimpin dan berbagai aturan justru sering terpecah hanya karena persoalan kecil.

Maka pertanyaannya bukan lagi:

“Siapa yang memimpin kita?”

Tetapi:

“Apakah hati kita mau dipimpin oleh kebaikan?”

Sebab seorang pemimpin sehebat apa pun tidak akan mampu membangun kebersamaan kalau orang-orang di dalamnya hanya sibuk memperjuangkan kepentingan masing-masing.

Mungkin Tuhan sedang mengajari kita melalui belalang

Yang kecil tidak selalu berarti lemah.

Yang tidak memiliki raja tidak selalu berarti kacau.

Dan yang berjalan bersama tidak harus kehilangan identitasnya.

Belalang mengajarkan sebuah pelajaran sederhana:

Berjalan bersama membutuhkan kerendahan hati.

Nggak semua harus menjadi kepala.

Tidak semua harus mendapat panggung.

Tak semua harus mendapatkan tepuk tangan.

Ada waktunya kita menjadi orang yang berada di depan.

Ada waktunya kita berada di tengah.

Dan ada waktunya kita cukup berjalan di belakang sambil memastikan orang lain tidak berjalan sendirian.

Mari belajar dari belalang

Di tengah dunia yang semakin ramai dengan persaingan, mari kita belajar sedikit dari makhluk kecil itu.

Tidak harus terlalu sibuk membuktikan bahwa kita lebih hebat.

Jangan terlalu cepat menjatuhkan orang yang berbeda.

Nggak perlu menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan.

Dan jangan mengukur nilai diri hanya dari seberapa banyak orang melihat kita.

Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling terkenal.

Hidup adalah kesempatan untuk menjadi berkat.

Kalau kita bisa berjalan bersama dalam kebaikan, saling menguatkan, saling menghormati dan saling memberi ruang, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang selama ini hilang:

kekuatan sebuah kebersamaan.

Dan akhirnya kita belajar dari belalang:

Tidak harus memiliki seorang raja untuk bisa berjalan bersama. Tetapi untuk bisa berjalan bersama, setiap hati harus belajar menaklukkan egonya.

 

Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong 

Berita Terkait

Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?
Harapan di Tengah Tekanan Ekonomi
Ketika Pajak Menjadi Beban: Belajar dari Raja Rehabeam dan Suara Para Nabi
Korupsi berawal dari hati yang tidak pernah puas
Generasi Digital: Bijak Menggunakan Teknologi sebagai Alat Kemuliaan Tuhan
Suara Rakyat adalah Suara Tuhan? Benarkah atau sekadar Slogan Politik?
Ketika kebencian mudah menyebar, orang percaya dipanggil menebar damai
Ketika perbedaan menjadi berkat
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:11 WIB

BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu

Rabu, 5 Agustus 2026 - 21:28 WIB

Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Ketika Pajak Menjadi Beban: Belajar dari Raja Rehabeam dan Suara Para Nabi

Selasa, 4 Agustus 2026 - 06:37 WIB

Korupsi berawal dari hati yang tidak pernah puas

Senin, 3 Agustus 2026 - 10:44 WIB

Generasi Digital: Bijak Menggunakan Teknologi sebagai Alat Kemuliaan Tuhan

Berita Terbaru

SULUH ZAMAN

BELALANG tidak punya Raja, tapi tahu cara bersatu

Selasa, 11 Agu 2026 - 12:11 WIB

RENUNGAN

7 Langkah Membangun Kesabaran Saat Menghadapi Masalah Hidup

Jumat, 7 Agu 2026 - 09:10 WIB

KABAR BAIK HARI INI

5 tanda bahwa Tuhan Yesus sangat peduli kepada kita

Kamis, 6 Agu 2026 - 20:25 WIB

SULUH ZAMAN

Lagi Ikutin Tuhan… atau Cuma Ngikutin Ego?

Rabu, 5 Agu 2026 - 21:28 WIB