DI zaman sekarang, anak-anak nggak cuma menghadapi tugas sekolah, tapi juga ancaman bullying, kekerasan, bahkan tekanan dari media sosial.
Banyak anak yang akhirnya memilih diam karena takut nggak dipercaya atau malah disalahkan.
Padahal, mereka cuma butuh satu hal: ada orang dewasa yang mau mendengar dan melindungi.
Menjaga mereka dari bullying
Nah, di sinilah gereja punya peran yang luar biasa.
Gereja bukan cuma tempat nyanyi dan dengar khotbah setiap Minggu.
Gereja bisa jadi “safe place”, tempat anak-anak merasa diterima, dihargai, dan berani cerita kalau sedang mengalami masalah.
Lewat Sekolah Minggu, pembinaan remaja, konseling, dan komunitas yang peduli, gereja bisa menjadi benteng pertama yang menjaga mereka dari bullying dan segala bentuk kekerasan.
Wujud nyata Injil yang hidup
Negara seperti Swedia membuktikan bahwa perlindungan anak berhasil ketika semua pihak bekerja sama: keluarga, sekolah, pemerintah, dan komunitas.
Gereja di Indonesia juga bisa menjadi bagian dari gerakan itu.
Mengajarkan kasih, menghargai sesama, menolak kekerasan, dan berani membela anak yang tertindas adalah wujud nyata Injil yang hidup.
Jadilah sahabat yang mau merangkul
Hari ini, yuk kita mulai dari hal sederhana. Jangan menertawakan teman yang berbeda.
Jangan diam saat melihat ada yang dibully. Jadilah sahabat yang mau merangkul, bukan menjatuhkan.
Karena setiap anak adalah ciptaan Tuhan yang berharga, dan mereka pantas bertumbuh dalam kasih, bukan dalam rasa takut.
“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku dan jangan menghalang-halangi mereka.” (Markus 10: 14)
Pesan Kabar Baik:
Gereja yang sehat bukan hanya dipenuhi jemaat, tetapi juga dipenuhi anak-anak yang merasa aman, dicintai, dan dilindungi.
Penyebar: Shalom.click | Ingot Simangunsong









