DI era media sosial, kita semakin sering menyaksikan persoalan pribadi dipertontonkan di ruang publik.
Perselisihan keluarga, pertengkaran antarsaudara, hingga membuka aib orang terdekat kini menjadi konsumsi banyak orang.
Yang dahulu diselesaikan dengan dialog, kini sering disampaikan melalui unggahan yang dapat dilihat jutaan mata.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan cara berkomunikasi, tetapi juga mencerminkan kondisi hati manusia.
Alkitab telah lama mengingatkan bahwa pada akhir zaman kasih banyak orang akan menjadi dingin (Matius 24: 12).
Ketika kasih memudar, rasa hormat, pengampunan, dan keinginan untuk menjaga sesama juga ikut memudar.
Firman Tuhan mengajarkan hal yang berbeda. Amsal 10: 12 berkata, “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.”
Ayat ini tidak berarti membenarkan dosa atau menutupi kejahatan yang harus diproses secara hukum, tetapi mengajarkan agar kita tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan tontonan, ejekan, atau sarana balas dendam.
Rasul Paulus juga mengingatkan, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun” (Efesus 4: 29).
Prinsip ini tentu berlaku pula bagi apa yang kita tuliskan di media sosial.
Setiap unggahan seharusnya menjadi sarana membangun, bukan menghancurkan.
Membuka aib keluarga di ruang publik sering kali lahir dari hati yang terluka.
Namun luka tidak akan sembuh jika dibalas dengan mempermalukan orang lain.
Sebaliknya, luka akan dipulihkan melalui kejujuran, pengampunan, pertobatan, dan penyelesaian yang benar.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi pembawa damai, bukan penyebar konflik.
Dunia mungkin memberi tepuk tangan kepada mereka yang paling berani mengungkap aib orang lain, tetapi Tuhan berkenan kepada mereka yang memakai hikmat, menjaga perkataan, dan mengusahakan pendamaian.
Kiranya setiap orang percaya bijaksana menggunakan media sosial.
Jangan sampai jari kita lebih cepat daripada kasih kita, dan jangan sampai keinginan menjadi viral membuat kita kehilangan karakter sebagai murid Kristus.
Penyebar: Shalom.click | Ebenezer









